Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Aktivis Pemantau DAS Kota Aek Kanopan Pertanyakan Kucuran Dana Rehabilitasi Dan Perawatan di BPDAS

228
×

Aktivis Pemantau DAS Kota Aek Kanopan Pertanyakan Kucuran Dana Rehabilitasi Dan Perawatan di BPDAS

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Labura | METRO ONE News – Idealnya daerah aliran sungai utama secara hidrologis untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan ke laut secara alami. Peran krusial DAS adalah menjaga keseimbangan ekosistim dalam mencegah banjir/ kekeringan serta memelihara kualitas air.

Menyikapi hajat hidup orang banyak terhadap dampak kelestarian lingkungan hidup, maka sebagai

warga Aek Kanopan mengajak berbagai elemen masyarakat di Aek kanopan untuk membahu dan bersinergi dalam memantau biang kerusakan Daerah Aliran Sungai ( DAS) di sepanjang alur Sei Aek Kanopan, Sei Kualuh dan Sei Bandar Durian yang kini kerap airnya melimpah ke pemukiman penduduk .

Tiga titik alur air sungai ini dikelola oleh instansi Pemerintah disebut BPDAS. Namun pengelola ini mulai disoroti dan harus menjadi replikasi kebutuhan urgen dalam melestarikan tiga titik sungai ini. Terutama kajian besarnya penyerobotan tanah di sisi kiri kanan alur sungai yang sengaja di alih fungsikan untuk keuntungan pribadi. Baik oleh masyarakat maupun perusahaan swasta dan BUMN.

Hal ini dipertegas aktivis pemantau DAS Kota Aek Kanopan, Ronaldo Siagian BSC, kehutanan dan pegiat lingkungan Deny Z. Munthe.

“Bersama melihat dan mengkaji kondisi alam dan arus sungai Aek Kanopan saat ini atau biasa disebut Sei Rebonding mulai memprihatinkan. lokasi ini kerap menjadi langganan banjir kala curah hujan tinggi. Bencana banjir ini selalu beruntun di alami masyarakat terkhusus perumahan flamboyan Kampung Tarutung Aek Kanopan dan dusun Suka rendah Aek Kanopan Timur. Nah, keberuntunan fasca bencana banjir ini harus menjadi kajian atau perlunya pengulangan penelitian (Replikasi ) dari instansi BPDAS yang melibatkan masyakat dan pegiat lingkungan dan DAS dalam melakukan diskusi. Agar ada solusi yang tepat dalam menangani bencana banjir berulang. Tentu bencana ini cukup menguras anggaran daerah hingga pemerintah pusat ditambah lagi besarnya kerugian masyarakat korban bencana yang harus ditalangi sendiri” sebut mereka senada.

Menurut mereka, melirik dari kondisi tiga sungai di kabupaten Labura ini kita tidak bisa pungkiri tentu ada beberapa kucuran dana APBD Provsu dan pusat mengalir untuk pembangunan tanggul atau benteng air dan bronjong yang di kelola UPTD PUPR Rantau Parapat. Mamun rasanya hasil kegiatan ini kurang bermutu dan jauh dari standar kebutuhan penanggulangan derasnya air.

“Sepertinya pekerjaan rehabilitasi sungai Aek Kanopan dan sungai Kualuh di titik desa Sialang Taji dan Tanjung Pasir beberapa tahun lalu masih perlu dipertanyakan volume dan mutu dari kegiatan ini. Bukan maksud kita menjustic tapi ini fakta.

Hasilnya dapat kita lihat bukan membuat kelancaran air sungai menjadi lebih lancar malah memperlambat mengalirnya arus air akibat bibir DAS makin dikeruk sebagai penopang keuntungan pemenang proyek. Seharusnya tanah didatangkan dari luar untuk mencetak benteng, ini fakta. Rehabilitasi tanggul sungai adalah upaya perbaikan penguatan dan pemulihan infrastruktur untuk penahan air yang kritis. Agar banjir terkendali, mencegah erosi, serta melindungi pemukiman penduduk dari bencana yang sangat merugikan warga. Maka penggunaan uang Negara untuk dampak lingkungan harus mempunyai tujuan utama yang mendasar serta tindakan tekhnis yang benar, hasilnya harus dipastikan tepat sasaran. Tentu sebagai pemerhati lingkungan kami akan mempertanyakan dimana dan sudah sampai kemana kucuran dana rehabilitasi dan perawatan di BPDAS wilayah ini sejak dari tahun ke tahun berjalan karena kami lihat kabur.

Untuk itu, tranfaransi dari instansi sangat kami tunggu” tegasnya. (Dany Munthe)

Example 300250
Example 120x600
Example 1940x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *