Medan | METRO ONE News – Warga di Medan mengeluhkan kenaikan harga Bahan Pokok dipasar tradisional seperti pasar UKA Marelan, Pasar Hamparan Perak dan Pasar Andan Sari, menurut pantauan di lokasi hampir seluruh harga bahan pokok mengalami kenaikan seperti ayam potong sudah mencapai Rp 50 ribu per kg.
Warga menyebut kenaikan harga ayam sudah tidak masuk akal sejak adanya Makan Bergizi Gratis (MBG). Padahal saat anak sekolah dan MBG libur, ayam potong berkisar Rp25 ribu per kg.
Terkini Jumat (28/8/2026), di Pasar Tradisional UKA Marelan, dan Hamparan Perak harga ayam potong Mencapai Rp 50 ribu per kg, harga telur ayam Rp 48 ribu per papan. Sementara untuk harga cabai merah capai Rp 55 ribu per kg, Tomat juga mengalami kenaikan capai Rp 15 ribu per kg.
Seorang Warga bernama Wulandari (31) saat berbelanja mengatakan, ia cukup terkejut karena harga ayam potong sudah mencapai Rp 50 ribu per kg.
“Kemarin masih harga Rp 45 per kg ayam potong, sekarang Ini sudah capai Rp 50 ribu per kg, udah tidak masuk di akal, ini diduga karena adanya MBG itu”, Ucapnya kepada wartawan.
Terpisah warga lain juga mengatakan hampir seluruh bahan pokok dan makanan mengalami kenaikan.
“Kemarin waktu anak sekolah libur, MBG libur juga ayam potong itu bisa Rp 25 ribu per kg. Sejak MBG ada, naiknya derastis gak masuk di akal,” cetus Ibu 4 anak itu.
Lanjut warga menjelaskan, saat ini uang belanja Rp 100 ribu, hanya cukup untuk beli Telur dan Ayam saja.
“Telur sudah Rp 45 ribu, cabai naik, tomat pun naik. Jadi Rp 100 ribu sekarang sudah kayak Rp 10 ribu. Cuma bisa beli dua bahan makanan saja,” ucapnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (Perindag ESDM) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Dedi Jaminsyah Putra Harahap Saat di konfirmasi mengatakan, pihaknya telah mencermati kenaikan harga daging ayam ras yang saat ini terjadi di Kota Medan dan beberapa wilayah lainnya.
“Kondisi ini menjadi perhatian kami karena menyangkut daya beli masyarakat dan pengendalian inflasi daerah,” ucapnya.

Dedi mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pelaku usaha, produsen, distributor serta instansi terkait untuk memastikan kondisi pasokan dan distribusi.
Dijelaskannya, berdasarkan pemantauan sementara pasokan ayam masih tersedia, namun kenaikan harga menurutnya disebabkan tingginya permintaan.
“Kenaikan harga antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan, termasuk penyerapan untuk berbagai kebutuhan masyarakat dan program pangan, serta pergerakan harga ayam hidup (live bird) dan biaya produksi,” ucapnya.
Warga berharap kepada pemerintah khususnya Gubernur Sumatera Utara serta dinas terkait, agar mendangarkan keluhan masyarakat dan mengambil langkah bijak dalam menangani situasi saat ini. (AW)


















