Deli Serdang | METRO ONE NEWS – Agung warga kecamatan hamparan perak, kabupaten Deli Serdang, menjadi korban penipuan kerja melalui media sosial. Tanpa sepengetahuan dan persetujuannya, ia yang dijanjikan bekerja di restoran, tiba-tiba dijebloskan ke Kamboja, sebuah negara kecil yang sempat ia dengar banyak memberikan pengalaman buruk bagi pekerja migran.
“Saya cari pekerjaan di sosial media Facebook. Saya memposting saya bisa kerja, apa pengalaman saya. Lalu ada seorang pria yang inbox ke Facebook saya. Dia menawarkan pekerjaan awalnya di Macau. Lalu saya tukeran nomor WhatsApp. Kita hubungannya lewat WhatsApp, telepon-teleponan, WhatsApp-an, dan sempat video call juga. Kita intens satu bulan penuh kita berhubungan,” jelasnya pada Selasa (16/12/2025).
Kenalan agung mengaku punya restoran di Thailand dan menawarkan posisi staf dapur dengan gaji 900 dolar. Dokumen dan work permit akan diurus di negara tersebut. Menurut pengalamannya, dokumen bisa diurus di Singapura bisa dengan proses calling visa. Ia akan mengurus dokumen itu di sana.
Namun tiket yang diberikan bukan ke Thailand. “Saya bertanya, kenapa saya dibelikan tiket ke Ho Chi Minh, kenapa tidak ke Thailand langsung. Tapi ia bilang, untuk tenang, dan percaya saja. Dari Ho Chi Minh, saya dijemput laki-laki menggunakan motor, menuju ke Kamboja. Tapi saya belum tahu kalau mau dibawa ke Kamboja.”
Setelah melewati portal imigrasi Kamboja, ia sadar tak lagi bisa menghubungi pria tersebut. Dari sanalah transaksi dimulai. Agung dibawa ke pasar oleh orang yang berbeda. Seorang pria Cina memberikan uang kepada orang yang membawanya.

Ia kebingungan dan bertanya pada salah satu orang di sana. “Ini sebenarnya kita kerja apa? Dia bilang, ‘Kita bekerja sebagai scammer atau penipuan online.’”
Menurut agung, scammer adalah pelaku penipuan online yang dilakukan di luar Indonesia. Pemiliknya orang Tiongkok, berkantor di Kamboja, mempekerjakan orang Indonesia, dan menargetkan korban orang Indonesia.
“Kamu tipulah banyak-banyak orang Indonesia. Kamu tidak akan bisa dipenjara. Dan jika kamu tidak bisa menipu, kamu akan didenda dan di hukum. Begitu yang mereka katakan,” ujarnya.
Agung bekerja dalam sistem tim yang terdiri atas CS, resepsionis, dan mentor. Leader akan membagi link ke resepsionis dan CS. CS akan mengolah, menawarkan iklan dan segala hal, serta memberikan komisi awal sebesar Rp18.000 atau Rp22.000.
Para korban diarahkan untuk mengunduh aplikasi dari Google (bukan Play Store), lalu diminta top up secara bertahap: Rp110 ribu, Rp160–180 ribu, dan seterusnya. Korban dijanjikan bisa menarik dana dengan bimbingan dari admin yang tampak profesional.
Setelah itu, korban masuk ke grup berisi satu korban asli dan empat akun palsu (aktor) yang menggunakan foto polisi, tentara, wanita atau pria menarik. Grup dikendalikan mentor untuk membangun kepercayaan. Korban lalu melakukan top up lanjutan sebesar Rp380 ribu hingga jutaan rupiah (1,6–7 juta). Pada tahap akhir, korban diminta top up Rp15–18 juta dan tetap dikenai pajak tambahan Rp7–8 juta.
Ketika korban hendak menarik dana, hanya Rp1 juta yang bisa dicairkan. Jika mencoba menarik Rp10 juta, akan muncul alasan “kesalahan VIP” dan korban diminta membayar tambahan Rp16–18 juta. Jika saldo korban besar, misalnya Rp50 juta, maka akan diminta membayar hingga Rp100 juta untuk memperbaiki sistem VIP.
Penipuan ini biasanya dijalankan lewat Telegram dengan metode sangat halus. Nomor yang digunakan pun nomor Indonesia, sehingga sulit dikenali.
“Kalau ragu, lebih baik browsing. Kita cari tahu di internet. Cari tahu apa sih TikTok Mall itu? Mesti muncul kok itu penipuan. Dan scam itu udah lama. Kalau udah masuk, uang kita nggak akan kembali,” katanya. Agung berharap tidak ada lagi yang mengalami hal serupa.
“Saya berpesan kepada seluruh warga Indonesia khususnya kecamatan hamparan perak, jika ada tawaran kerja keluar negri kenali dan pahami dulu”, tutupnya. (AW)


















